Catatan Lapangan (Field Note)
Tanggal : 22 Oktober 2008
waktu : 20.42 – 22.00
tempat : kantor Pusham ketintang
nama : Budiman Sujatmiko (L)
umur (tgl/tempat lahir) :
alamat :
pendidikan :
pekerjaan :
| Catatan | Refleksi |
| “Ya terima kasih saudara-saudara sekalian assalamualaikum Wr. Wb. Merdeka, ya suadara-saudara sekalian ya pada kesempatan kali ini saya diundang oleh teman-teman dari pusham, terimakasih kepada teman-teman dari GMNI baik yang senior maupun yang yunior, intinya saya ingin mengatakan bahwa Soekarno adalah, Bung Karno adalah, korban dari, figure Bung Karno merupakan korban dari proses stigma politik sehingga kita sebagai sebuah bangsa, kita sepakat figure Bung Karno sebagai Proklamator dan Presiden RI, tapi figure Bung Karno ketika mau ditarik kedalam suatu aspek yang lebih progresif sebagai Bapak ideology, sebagai Bapak marhaenisme misalnya sebagai seoarang penulis teori-teori yang revolusioer sering kali costrain terpecah. misalnya begini, Bung Karno Proklamator dan Presiden RI yang pertama tidak ada yang memperdebatkan itu, tetapi menempatkan figure Bung Karno katakanlah sebagai figure penggerak tranformasi masyarakat, disitulah disebut sebagai seorang tokoh nasional dan sebagai pemikir dan pelaku perubahan sosal itu kadang-kadang sejumlah kelompok menolak itu, misalnya, contoh saja orang-orang di belakang latar belakang politik Islam diajak melihat hanya sebagai seorang Proklamator dan Presiden. ketika orang-orang dibelakang politik Islam diajak melihat Bung Karno sebagai ideology katakanlah, mereka semua melarikan diri seolah-olah ide bung karno tidak dapat mereprensentasikan keberadaan kelompok ini atau kelompok-elompok yang lain. orang-orang yang latar belakangnya PNI misalnya, mereka sepakat figure Bung Karno sebagai Proklamator dan Presiden RI, tapi ketika mereka diajak untuk menarik figure Bung Karno sebagai seorang tokoh, ideology, gerakan Marheinisme sebagai tokoh cenderung melihat “Wah bung karno bukan orang kita” dilain pihak juga, kadang-kadang juga gerakan kaum Soekarnois Tradisional di kalangan Marheinisme Tradisonal pun diletakkan dalam kerangka ideology tetapi tidak diusung oleh mereka secara tradisional menjadi bagian dari gerakan partai Bung Karno, mereka mengatakan “Lho kenapa kok membawa-bawa Bung Karno dalam pengertian yang ideologis. jadi, yang merasa punya tidak mau berbagi, ynag merasa tidak diwakili tidak mau ikut sharing tentang pikiran-pikiran dia. ini adalah suatu persoalan yang menurut saya seharusnya sudah selesai, yang seharusnya sudah dirmpungkan atau minimal sudah dikurangi selama berpuluh-puluh tahun karena baik meraka yang secara tradisional menajdi gerakan soekarnois maupun yang menjadi bagian kerangka social democrat, maupun yang berasal dari latar belakang gerakan-gerakan Islam ataupun mereka yang menjadi bagian dari gerakan Kiri Kotemporer tahun delapan puluhan sembilan puluhan sama-sama menjadi korban otoriter orde baru, namun rupanya saudara-saudara sekalian, orede baru selama tiga puluh tahun itu tidak bisa menghancurkan sekat-sekat horizontal diantara kelompok-kelompok politik dan organisasi politik. sekat-sekat itu dipelihara karena selain orde baru berkepentingan untuk memelihara sekat-sekat itu, tapi juga diantara kelompok-kelompok tadi menganggap Soekarno itu wekku atau Soekarno adalah milik dia. ketika sudah menyangklut soekarno sebagai figure ideologis dan ketika soekarno sebagai Proklamator dan Presiden RI, tidak ada perdebatan tentang itu, nah, hal lain saudara-saudara saya ingin mencoba melihat perdebatan dari arah kelompok-kelompok kiri yang kotemporer dan yang sampai sekarang masih harus saya yakinkan bahwa bagaimana menangkap bahwa Soekarno bukan hanya seorang Proklamator dan Presiden tetapi juga sebagai ideology dari gerakan-gerakan rakyat indonesia. Dulu di Nikaragua pejuang-pejuang disana meetakkan figure Sadino atau Sadinismo dan mereka meletakkan diri mereka sebagai kaum Sadinista, Sadinis, sebagai seorang tokoh pejuang kemerdekaan di Nikaragua dan mempribumikan pikiran-pikiran progresif, nah disinilah saya pikir sebenarnya Bung Karno meletakan dasar-dasar itu semua tentu saja apa yang ingin dicapai.” Penutupan disampaikan oleh bambang “belum ada kekuatan yang menawarkan alternative cara lebih sistematis yang lebih riil sementara kekuatan-kekuatan yang progresif yang di sisi kiri bawah itu masih sporadis. belum cukup terkonsolidasi dengan baik dengan berbagai kekuatan. ada kebutuhan untuk menghilangkan sekat-sekat primodialisme. mungkin mereka social progresif, tetapi basisnya NU, PPP, PDI-P, GMNI, dan sebagainya tetapi mereka sebetulnya bisa dikategorikan sebagai social progresif itu. ada kebutuhan untuk keduanya mempersatukan kekuatan-kekuatan itu dalam satu ideology yang jelas untuk memberikan alternative-alternatif melawan kekuatan-keutan ideology kanan atas. kita keliatannya sampai sekarang lebih didominasi oleh kekuatan sifat previte liberalism muali dari system politiknya, system ekonminya, hukumnya, bahkan ketika rakyat previte liberalism itu dimaknai sebagai hal baru. baru-baru ini saya melihat bagaimana pengadilan yang dulu dihormati dan sekarang tidak lagi dihormati, bahkan ada orang yang melakukan pembunuhan di depan hakim, ini saya kira ditingkat rakyat ekspresi dari sekedar pelatihan pevideliberalism mungkin seperti itu, lalu kita melihat previte liberalism dengan munculnya premanisme politik yang memang secara sengaja di pelihara, kemudian di kasih tempat terus diikutkan dalam gerbong reformasi. tapi sebetulnya lebih menekankan pada kekerasan dan mereka akan selalu di tengah era reformasi akan mendominasi wacana dengan kekerasan itu, dampaknya luar biasa, seolah-olah negara tanpa arah, tanpa pemimpin dan negara yang dengan hukum yang tidak jelas. dalam konteks situasi itu saya sepakat bahwa ada kebutuhan untuk menawarkan suatu alternatif yang didukung oleh kekuatan riil. | Materi dari Budiman Sujatmiko Kesimpulan dari Bambang |

1 komentar:
h he he heh e he he he h eh
bisa artikan tulisan ini?
simbol jepang disamping.
Posting Komentar